Tampilkan postingan dengan label DIII Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIII Kebidanan. Tampilkan semua postingan

Plasenta Previa

PLASENTA PREVIA

1.      Definisi
  • Plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir, (prae: didepan; vias: jalan). Jadi yang dimaksud adalah plasenta yang implantasinya tidak normal ialah rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian osium internum. Implantasi plasenta yang normal ialah pada dinding depan atau dinding belakang rahim didaerah fundus uteri. (Obsterti Patologi, Edisi 1984).
  • Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh osteum uteri internum. (2).
  • Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya subnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir.
2.      Klasifikasi Plasenta Previa
Plasenta previa dibagi kedalam tiga bagian yaitu:
  • Plasenta previa totalis: seluruh internum tertutup oleh plasenta.
  • Plasenta previa lateralis: hanya sebagian dari ostium tetutup oleh plasenta.
  • Plaseta previa marginalis: hanya pada pingir ostium terdapat jaringan plasenta. (Obsterti Patologi, Edisi 1984).
  • plasenta letak rendah : berada pada segmen bawah rahim
Dari klasifiskasi tersebut yang sama sekali tidak dapat melahirkan pervaginam yaitu plasenta previa totalis seperti terdapat dalam gambar berikut :


jenis plasenta previa

3.      Etiologi
Belum diketahui pasti, frekuensi plasenta previa menigkat pada grade multi para. Primigravida tua. Bekas seksiosesarea, bekas aborsi, kelainan janindan leiomioma uteri.
  • Anamnesis: Perdarahan jalan lahir berwana merah segar tanpa rasa nyeri. Tanpa sebab terutama pada multi para.
  • Pemeriksaan fisik
  1. Pemeriksaan luar, bagian tebawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Ada kelainan letak jain.
  2.  Pemeriksaan inspekulo, perdarahan berasal dari usteum uteri eksternum.
Penentun letak plasenta secara lansung baru dikerjakan jika fasilitas lain tidak ada dan dilakukan dalam keadaan siap operasi, disebut dalam pemeriksaan dalam meja operasi(PDMO), caranya sebagai berikut:
  1. Perabaan fornik, hanya bermakna jika janin persentasi kepala. Sambil mendorong sedikit kepala janin kearah pintu atas panggul. Perlahan-lahan raba seluruh forniks dengan jari. Perabaan lunak jika antara jari dan kepala terdapat plasenta
  2. Pemeriksaan melalui kanalis servikalis, setelah pada perabaan forniks dicurigai adanya plasenta previa. Bila kanalis servikalis telah terbuka, perlahan-lahan masukan jari sekali-sekali berusaha menyusuri pinggir plasenta seterusnya karena mungkin plasenta akan terlepas dari inersinya.
4.      Komplikasi
  1. Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena perdarahan plasentitis, dan endometritis pasca persalinan.
  2. Pada janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasi seperti Asfiksi berat. ( Mansjoer, 2002)
5.      Gambaran Kinik
Pendarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam. Sejak kehamilan 20 minggu segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat dari dinding uterus. Pada saat ini dimulai terjadi perdarahan darah berwarna merah segar.
Sumber perdarahan ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagai serabut otot uterus untuk menghentikan perdarahan kala III dengan plasenta yang letaknya normal makin rendah letak plasenta makin dini perdarahan terjadi, oleh karena itu perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai. ( Wiknjosostro, 1999 : 368 )

6.      Pemeriksaan diagnostic
  1.  Anamnesis.Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri terutama pada multigravida, banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari pada pemeriksaan hematokrit.
  2. Pemeriksaan Luar. Bagian bawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul presentasi kepala, biasanya kepala masih terapung di atas pintu atas panggul mengelak ke samping dan sukar didorong ke dalam pintu atas panggul.
  3. Pemeriksaan In Spekulo. Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari osteum uteri eksternum atau dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai.
  4.  Penentuan Letak Plasenta Tidak Langsung. Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan radiografi, radioisotope, dan ultrasonagrafi. Ultrasonagrafi penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya dan tidak menimbulkan rasa nyeri. (Wiknjosostro, 2005)
  5. Pemeriksaan Ultrasonografi. Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium bila jarak tepi 5 cm disebut plasenta letak rendah.
  6. Diagnosis Plasenta Previa Secara Defenitif.. Dilakukan dengan PDMO yaitu melakukan perabaan secara langsung melalui pembukaan serviks pada perdarahan yang sangat banyak dan pada ibu dengan anemia berat, tidak dianjurkan melakukan PDMO sebagai upaya menetukan diagnosis. (Saifudin, 2001)
7.      Penatalaksanaan
a.       Terapi ekopektif


1)  Tujuan terapi ekopektif ialah supaya janin tidak terlahir premature, penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servikalis. Upaya diagnosis dilakukan secara non-infansif pemantauan klinis dipantau secara ketat dan baik.
Syarat-syarat terapi ekopektif:
  • Kehamilan preterm dan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.
  • Belum ada tanda-tanda inpartu.
  • Keadaan umum ibu cukp baik.
  •  Janin masih hidup.
2)    Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotic profilaksis.

3)Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui inplantasi plasenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak dan presentasi janin.
4)      Berikan tokolitik jika ada kontaraksi.
  • MgSO4 4 grm iv dosis awal dilanjutkan 4grm setiap 6 jam.
  • Betametason 24 mg iv dosis tunggal untuk pematangan paru janin.
5)Uji pematangan paru janin dengan tes kocok(bubble tes) dan hasil amniosentesis.

6) Bila setelah usia kehamilan diatas 24 minggu, plasenta masuh berada disekitar ostium uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas, sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat janin.

b.      Terapi aktif
  •  Wanita hamil diatas 2 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang maturnitas janin.
  • Untuk diagnosis plasenta previa dan menetukan cara menyelesaikan persalinan, setelah semua persyaratan terpenuhi, lakukan PDMO jika:
  • Infuse atau tranfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap.
  • Kehamilan ≥ 37 minggu (BB 2500 grm) dan inpartu.
  • Janin telah meniggal atau terdapat anomaly kongenital mayor (misal: anensefali).
  • Perdarahan dengan bagian bawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).
Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa adalah:
1)            Seksio sesarea
  •  Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tidak punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilaksanankan.
  • Tujuan seksio sesarea.
  • Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan.
  • Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks uteri, jika janin dilahirkan pervaginam.
  • Lakukan perawatan lanjut paska bedah termaksud pemantauan perdarahan, infeksi dan keseimbangan cairan masuk, keluar
Plasenta Previa
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer A,et al. 2001. Kapita Selekta. Jakarta : Penerbit Media   Aesculapius FKUI
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP

Kontrasepsi Darurat Pil

KONDAR PIL

a. Pengertian
Kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan bila digunakan segera setelah hubungan seksual tanpa perlindungan. Hal ini sering disebut “kontrasepsi pasca senggama” atau “morning after pill” atau “morning after treatment”. (Saifuddin, 2006, h. U-61)

b. Jenis kondar pil



cara
Merk dagang
Dosis
Waktu pemberian
Pil kombinasi dosis tinggi
Microgynon 50
Ovral
Neogynon
Nordiol
Eugynon
2x2 tablet
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, dosis kedua 12 jam kemudian
Dosis rendah
Microgynon 30
Mikrodiol
Nordette
2x4 tablet
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, dosis kedua 12 jam kemudian
Progestin
Postinor-2
2x1 tablet
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, dosis kedua 12 jam kemudian
Estrogen
Lynoral
Premarin
progynova
2,5 mg/dosis
10 mg/dosis
10 mg/dosis
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, 2x1 dosis selama 5 hari
Mifepristone
RU-486
1x600 mg
Dalam waktu 3 hari pascasenggama
Danazol
Danocrine
Azol
2x4 tablet
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, dosis kedua 12 jam kemudian
(Saifuddin, 2006, h. U-62)

c. Manfaat

Sangat efektif (tingkat kehamilan < 3%). (Saifuddin, 2006, h. U-62)

d. Keterbatasan

  • Pil kombinasi hanya efektif jika digunakan dalam 72 jam sesudah hubungan seksual tanpa perlindungan.
  • Pil kombinasi dapat menyebabkan nausea, muntah, atau nyeri payudara. (Saifuddin, 2006, h. U-62)
e. Indikasi

Indikasi kontrasepsi darurat adalah untuk mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki. 
Bila terjadi kesalahan dalam pemakaian kontrasepsi seperti:
  • Kondom bocor, lepas atau salah menggunakannya.
  • Difragma pecah, robek atau diangkat terlalu cepat.
  • Kegagalan senggama terputus (misalnya ejakulasi di vagina atau pada genitalia eksterna)
  • Salah hitung masa subur.
  • AKDR ekspulsi
  • Lupa minum pil KB lebih dari 2 tablet
  • Terlambat lebih dari 2 minggu untuk suntik KB.
  • Perkosaan.
  • Tidak menggunakan kontrasepsi. (Saifuddin, 2006, h. U-63)
f. Kontraindikasi

Hamil atau disangka hamil.

g. Efek samping

  • Mual, muntah : perlu konseling. Jika muntah terjadi dalam 2 jam sesudah penggunaan pil pertama atau kedua, dosis ulangan perlu diberikan.
  • Perdarahan / bercak : sekitar 8% klien dengan kontrasepsi oral kombinasi mengalami bercak – bercak. Sekitar 50% mendapat haid pada waktunya bahkan lebih awal. (Saifuddin, 2006, h. U-63)
Kontrasepsi Darurat Pil
Contoh Pil Kondar

Materi Lengkap Atonia Uteri

Atonia Uteri

a. Pengertian :

Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri. Perdarahan postpartum dengan penyebab uteri tidak terlalu banyak dijumpai karena penerimaan gerakan keluarga berencana makin meningkat (Manuaba & APN). Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum. 


Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak berkontraksi.Batasan: Atonia uteri adalah uterus yang tidak berkontraksi setelah janin dan plasenta lahir.

b. Penyebab :


Atonia uteri dapat terjadi pada ibu hamil dan melahirkan dengan faktor predisposisi (penunjang ) seperti :

  1. Overdistention uterus seperti: gemeli makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi.
  2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua.
  3. Multipara dengan jarak kelahiran pendek
  4. Partus lama / partus terlantar
  5. Malnutrisi.
  6. Penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta, misalnya plasenta belum terlepas dari dinding uterus.
c. Gejala Klinis:
  • Uterus tidak berkontraksi dan lunak
  • Perdarahan segera setelah plasenta dan janin lahir (P3).
d. Pencegahan atonia uteri.

Atonia uteri dapat dicegah dengan Managemen aktif kala III, yaitu pemberian oksitosin segera setelah bayi lahir (Oksitosin injeksi 10U IM, atau 5U IM dan 5 U Intravenous atau 10-20 U perliter Intravenous drips 100-150 cc/jam.Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.Oksitosin mempunyai onset yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti preparat ergometrin. Masa paruh oksitosin lebih cepat dari Ergometrin yaitu 5-15 menit.Prostaglandin (Misoprostol) akhir-akhir ini digunakan sebagai pencegahan perdarahan postpartum.

e. Penanganan Atonia Uteri

Penanganan Umum

  • Mintalah Bantuan. Segera mobilisasi tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat.lakukan pemeriksaan cepat keadaan umum ibu termasuk tanda vital(TNSP).
  • Jika dicurigai adanya syok segera lakukan tindakan. Jika tanda -tanda syok tidak terlihat, ingatlah saat melakukan evaluasi lanjut karena status ibu tersebut dapat memburuk dengan cepat.
  • Jika terjadi syok, segera mulai penanganan syok.oksigenasi dan pemberian cairan cepat, Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah. 
Pastikan bahwa kontraksi uterus baik:
  • lakukan pijatan uterus untuk mengeluarkan bekuan darah. Bekuan darah yang terperangkap di uterus akan menghalangi kontraksi uterus yang efektif. berikan 10 unit oksitosin IM
  • Lakukan kateterisasi, dan pantau cairan keluar-masuk.
  • Periksa kelengkapan plasenta Periksa kemungkinan robekan serviks, vagina, dan perineum.
  • Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.Setelah perdarahan teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti), periksa kadarHemoglobin:
  • Jika Hb kurang dari 7 g/dl atau hematokrit kurang dari 20%( anemia berat):berilah sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 120 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral sekali sehari selama 6 bulan;
  • Jika Hb 7-11 g/dl: beri sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 60 mg ditambah asam folat 400mcg per oral sekali sehari selama 6 bulan;
Penanganan Khusus
  • Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri.Teruskan pemijatan uterus.Masase uterus akan menstimulasi kontraksi uterus yang menghentikan perdarahan.Oksitosin dapat diberikan bersamaan atau berurutan Jika uterus berkontraksi.Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung, periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera.Jika uterus tidak berkontraksi maka :Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina & ostium serviks. Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong.Antisipasi dini akan kebutuhan darah dan lakukan transfusi sesuai kebutuhan. Jika perdarahan terus berlangsung:
  • Pastikan plasenta plasenta lahir lengkap;Jika terdapat tanda-tanda sisa plasenta (tidak adanya bagian permukaan maternal atau robeknya membran dengan pembuluh darahnya), keluarkan sisa plasenta tersebut.Lakukan uji pembekuan darah sederhana.
  • Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati.

Sikap bidan

Materi Lengkap Atonia Uteri

penanganan atonia uteri


Teknik KBI

1 Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril, dengan lembut masukkan tangan (dengan cara menyatukan kelima ujung jari) ke intraktus dan ke dalam vagina itu.

2. Periksa vagina & serviks. Jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada kavum uteri mungkin uterus tidak dapat berkontraksi secara penuh.

3. Letakkan kepalan tangan pada fornik anterior tekan dinding anteror uteri sementara telapak tangan lain pada abdomen, menekan dengan kuat dinding belakang uterus ke arah kepalan tangan dalam.

Materi Lengkap Atonia Uteri

kompresi bimanual eksterna (KBE)

4. Tekan uterus dengan kedua tangan secara kuat. Kompresi uterus ini memberikan tekanan langsung pada pembuluh darah di dalam dinding uterus dan juga merang sang miometrium untuk berkontraksi.

5. Evaluasi keberhasilan:

  • Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang, teruskan melakukan KBl selama dua menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina. Pantau kondisi ibu secara melekat selama kala empat.
  • Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung, periksa perineum, vagina dari serviks apakah terjadi laserasi di bagian tersebut. Segera lakukan si penjahitan jika ditemukan laserasi.
  • Jika kontraksi uterus tidak terjadi dalam waktu 5 menit, ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal (KBE, Gambar 5-4) kemudian terus kan dengan langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya. Minta tolong keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan.Alasan: Atonia uteri seringkali bisa diatasi dengan KBl, jika KBl tidak berhasil dalam waktu 5 menit diperlukan tindakan-tindakan lain.
6. Berikan 0,2 mg ergometrin IM (jangan berikan ergometrin kepada ibu dengan hipertensi)Alasan : Ergometrin yang diberikan, akan meningkatkan tekanan darah lebih tinggi dari kondisi normal.

7. Menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18), pasang infus dan berikan 500 ml larutan Ringer Laktat yang mengandung 20 unit oksitosin.

Alasan: Jarum dengan diameter besar, memungkinkan pemberian cairan IV secara cepat, dan dapat langsung digunakan jika ibu membutuhkan transfusi darah. Oksitosin IV akan dengan cepat merangsang kontraksi uterus. Ringer Laktat akan membantu mengganti volume cairan yang hiking selama perdarahan.

8. Pakai sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan ulangi KBI.

Alasan: KBI yang digunakan bersama dengan ergometrin dan oksitosin dapat membantu membuat uterus-berkontraksi

9. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu sampai 2 menit, segera lakukan rujukan Berarti ini bukan atonia uteri sederhana. Ibu membutuhkan perawatan gawat-darurat di fasilitas kesehatan yang dapat melakukan tindakan pembedahan dan transfusi darah.

10. Dampingi ibu ke tempat rujukan. Teruskan melakukan KBI hingga ibu tiba di tempat rujukan. Teruskan pemberian cairan IV hingga ibu tiba di fasilitas rujukan:

a. Infus 500 ml yang pertama dan habiskan dalam waktu 10 menit.

b. Kemudian berikan 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga jumlah cairan yang diinfuskan mencapai 1,5 liter, dan kemudian berikan 125 ml/jam.

c. Jika cairan IV tidak cukup, infuskan botol kedua berisi 500 ml cairan dengan tetesan lambat dan berikan cairan secara oral untuk asupan cairan tambahan.

Kompresi bimanual eksternal

1. Letakkan satu tangan pada abdomen di depan uterus, tepat di atas simfisis pubis.

2. Letakkan tangan yang lain pada dinding abdomen (dibelakang korpus uteri), usahakan memegang bagian belakang uterus seluas mungkin.

Materi Lengkap Atonia Uteri

Kompresi bimanual eksterna (KBE)

3. Lakukan gerakan saling merapatkan kedua tangan untuk melakukan kompresi pembuluh darah di dinding uterus dengan cara menekan uterus di antara kedua tangan tersebut. (Pusdiknakes, Asuhan Persalinan Normal) Jika perdarahan terus berlangsung setelah dilakukan kompresi:

· Lakukan ligasi arteri uterina dan ovarika.

· Lakukan histerektomi jika terjadi perdarahan yang mengancam jiwa setelah ligasi. Uterotonika : Oksitosin : merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis. Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi, tetapi pada dosis tinggi menyebabkan tetani.Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif diberikan lewat infus dengan Larutan Ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi kolaps bisa diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM).Efek samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus, efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan. 
Metilergonovin maleat : merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM.Dapat diberikan secara IM 0,25 mg, dapat diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum 1,25 mg, dapat juga diberikan langsung pada miometrium jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0,125 mg.Obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi. Prostaglandin (Misoprostol) : merupakan sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa. Misoprostol dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g).
Prostaglandin ini merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping prostaglandin seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala, hipertensi dan bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus, bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral, sehingga kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan, berkeringat, dan gelisah yang disebabkan peningkatan basal temperatur, hal ini menyebabkan penurunan saturasi oksigen.Uterotonika ini tidak boleh diberikan pada ibu dengan kelainan kardiovaskular, pulmonal, dan gangguan hepatik.Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan dan sebagian besar dapat hilang sendiri. Dari beberapa laporan kasus penggunaan prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan atonia uteri dengan angka keberhasilan 84%-96%. Perdarahan pospartum dini sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan pemakaian Uterotonika untuk menghindari perdarahan masif yang terjadi.

Daftar Pustaka 
James R Scott, et al. Danforth buku saku obstetric dan ginekologi. Alih bahasa TMA Chalik. Jakarta: Widya Medika, 2002. Obstetri fisiologi, Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Unversitas Padjajaran Bandung, 1993. Mochtar, Rustam. Sinopsis obstetrik. Ed. 2. Jakarta: EGC, 1998.Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana. Jakarta: EGC, 1998.Bobak, Lowdermilk, Jensen. Buku ajar keperawatan maternitas. Alih bahasa: Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugerah. Jakarta: EGC. 2004 Heller, Luz. Gawat darurat ginekologi dan obstetric. Alih bahasa H. Mochamad martoprawiro, Adji Dharma. Jakarta: EGC, 1997.

Cara Menyusui Bayi Kembar

TEKNIK MENYUSUI BAYI KEMBAR

Sangat bahagia tentunya bila memiliki bayi kembar yang sangat lucu. Namun akan berbeda bila sudah berurusan dengan menyusui. Menyusui bayi kembar memerlukan perlakuan yang ekstra, produksi ASI untuk menyusui bayi kembar, semakin banyak dibandingkan ASI yang menyusui satu bayi bukanya berkurang, dengan catatan ibu yang menyusuinya harus mengkonsumsi makanan yang bergizi seperti sayuran dan buah-buahan supaya ASI yang diproduksi banyak dan harus sering makan. Kadang ibu yang mempunyai anak kembar sulit untuk menyusui bayi kembarnya, disini tips menyusui bayi kembar diantaranya:

  • Waktu menyusui bayi kembar yang harus dilakukan pertama kali bayi lahir simpan di perut ibu
  • atau dada ibunya sebelah kiri dan kanan dengan bantuan orang lain, keadaan ibu berbaring
  • telentang lurus, sampai bayi tersebut menemukan puting susu ibunya supaya ada kontak batin
  • antara ibu dan anak.
  • Posisi bayi harus saling bertolak arah jangan berhadapan, seperti kedua tangan ibu memeluk
  • masing-masing satu kepala bayi, posisi kaki bayi keluar .
  • Untuk memudahkan menyusui bayi kembar Simpan bayi ditempat yang datar yang memiliki
  • ketinggian kurang lebih sepinggang ibu.
  • Meletakkan bantal di atas pangkuan ibu.
  • Ada dua posisi, yaitu posisi dibawah ketiak dan posisi mengayun
  • Menyusui bayi kembar harus bersamaan, jangan bergantian
  • Dalam menyusui harus giliran jangan diberi susu itu-itu saja, gantian posisi

menyusui bayi kembar
Kecemburuan adalah hal yang lumrah terjadi pada bayi kembar saat disusui oleh ibunya. Dengan beberapa tips sederhana ini, kecemburuan pada bayi kembar Anda akan teratasi. Banyak para ahli menyatakan bahwa anak-anak tidak akan memperlihatkan tanda-tanda kecemburuan sampai usia mereka mencapai tahap balita. Namun, fenomena kecemburuan saat pemberian ASI sudah bisa terjadi pada bayi kembar yang berusia empat bulan, meskipun umumnya terjadi pada usia enam bulan. Kecemburuan dalam mendapatkan ASI biasanya muncul pada anak ketika ibunya sibuk menyusui saudara kembarnya. Hal tersebut dilakukan oleh si kembar sebagai suatu cara untuk merebut kembali perhatian si ibu. Kecemburuan pada si kembar yang menuntut untuk diperhatikan dan dirawat secara bersamaan tentu mengakibatkan seorang ibu kelelahan dan kewalahan. Nah, di bawah ini ada beberapa cara efektif yang dapat Anda lakukan untuk meminimalisir rasa cemburu yang muncul pada si kembar.

Atur Waktu Tidur
Aturlah waktu bangun dan tidur yang berbeda antar masing-masing si kembar, sehingga Anda dapat menghabiskan waktu penuh untuk salah satu dari bayi kembar Anda sebelum si kembar yang lain bangun dari tidurnya. Misalnya, jika salah satu bayi kembar Anda bangun di siang hari, maka aturlah sedemikian rupa agar saudaranya bangun 15 sampai 20 menit kemudian. Lakukan hal yang sama saat mereka tidur siang maupun tidur di malam hari. Tidur kan salah satu bayi kembar Anda pada waktu yang ditentukan, dan gunakanlah waktu tersebut untuk menyusui bayi kembar Anda yang lain. Lakukan hal tersebut secara bergantian agar Anda sendiri tidak kewalahan saat menyusui kedua bayi kembar Anda.

Alihkan Perhatian
Berilah mainan favorit maupun makanan ringan pada salah satu dari mereka yang tidak sedang Anda susui sebagai pengalih perhatian. Selain itu, Anda juga bisa menyuruh anak Anda yang lebih tua untuk bermain dengan si kembar agar dia merasa terhibur. Nah, hal ini dapat memberi Anda waktu lebih yang Anda butuhkan untuk menyusui saudara kembarnya secara leluasa. Namun, perlu Anda perhatikan bahwa kecemburuan mungkin tetap muncul pada salah satu si kembar, jadi aturlah waktu sedemikian rupa agar Anda tetap dapat memberi perhatian yang sama pada kedua bayi.

Susui Bersamaan
Sekali waktu, susui kedua bayi kembar Anda secara bersamaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa akan ada saat ketika Anda diharuskan menyusui kedua bayi sekaligus. Sebagai contohnya, salah satu dari si kembar menangis karena kepalanya terbentur dan hal tersebut terjadi bersamaan ketika Anda sedang menyusui bayi kembar yang lain. Nah, tidak ada pilihan lain yang dapat Anda lakukan selain menyusui kedua bayi kembar secara bersamaan. Menyusui terkadang merupakan cara terbaik untuk menenangkan bayi saat rewel maupun menangis. Jadi, jangan ragu untuk menyusui kedua bayi kembar Anda dalam waktu yang sama jika hal tersebut memang yang mereka perlukan. Dengan begitu, tidak akan muncul kecemburuan antara si kembar yang satu dengan yang lain. 


Berikut beberapa contoh posisi menyusui bayi kembar


Posisi menyusui bayi kembar
Posisi Menyusui Bayi Kembar