Tampilkan postingan dengan label KB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KB. Tampilkan semua postingan

Hak-Hak Konsumen KB (Keluarga Berencana)

Hak-Hak Konsumen KB (Keluarga Berencana)

Keluarga berencana (disingkat KB) adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Itu bermakna adalah perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom, spiral, IUD, dan sebagainya. Jumlah anak dalam sebuah keluarga yang dianggap ideal adalah dua. Gerakan ini mulai dicanangkan pada tahun akhir 1970-an.

Berikut penjelasan 11 (sebelas) hak yang dimiliki konsumen KB (Keluarga Berencana) yang dapat admin jelaskan :

1. Hak atas informasi
Hak untuk mengetahui segala manfaat dan keterbatasan pilihan metode perencanaan keluarga.

2. Hak akses.
Yaitu hak untuk memperoleh pelayanan tanpa membedakan jenis kelamin, agama dan kepercayaan, suku, status sosial, status perkawinan dan lokasi.

3. Hak pilihan.
Hak untukmemutuskan secara bebas tanpa paksaan dalam memilih dan menerapkan metode KB.

4. Hak keamanan
Yaitu hak untuk memperoleh pelayanan yang aman dan efektif.

5. Hak privasi
Setiap konsumen KB berhak untuk mendapatkan privasi atau bebas dari gangguan atau campur tangan orang lain dalam konseling dan pelayanan KB.

6. Hak kerahasiaan
Hak untukmendapatkan jaminan bahwa informasi pribadi yang diberikan akan dirahasiakan.

7. Hak harkat
Yaitu hak untuk mendapatkan pelayanan secara manusiawi, penuh penghargaan dan perhatian.

8. Hak kenyamanan

Setiap konsumen KB berhak untuk memperoleh kenyamanan dalam pelayanan.

9. Hak berpendapat
Hak untuk menyatakan pendapat secara bebas terhadap pelayanan yang ditawarkan.

10. Hak keberlangsungan
Yaitu hak untuk mendapatkan jaminan ketersediaan metode KB secara lengkap dan pelayanan yang berkesinambungan selama diperlukan.

11. Hak ganti rugi
Hak untuk mendapatkan ganti rugi apabila terjadi pelanggaran terhadap hak konsumen.

Kontrasepsi Darurat Pil

KONDAR PIL

a. Pengertian
Kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan bila digunakan segera setelah hubungan seksual tanpa perlindungan. Hal ini sering disebut “kontrasepsi pasca senggama” atau “morning after pill” atau “morning after treatment”. (Saifuddin, 2006, h. U-61)

b. Jenis kondar pil



cara
Merk dagang
Dosis
Waktu pemberian
Pil kombinasi dosis tinggi
Microgynon 50
Ovral
Neogynon
Nordiol
Eugynon
2x2 tablet
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, dosis kedua 12 jam kemudian
Dosis rendah
Microgynon 30
Mikrodiol
Nordette
2x4 tablet
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, dosis kedua 12 jam kemudian
Progestin
Postinor-2
2x1 tablet
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, dosis kedua 12 jam kemudian
Estrogen
Lynoral
Premarin
progynova
2,5 mg/dosis
10 mg/dosis
10 mg/dosis
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, 2x1 dosis selama 5 hari
Mifepristone
RU-486
1x600 mg
Dalam waktu 3 hari pascasenggama
Danazol
Danocrine
Azol
2x4 tablet
Dalam waktu 3 hari pascasenggama, dosis kedua 12 jam kemudian
(Saifuddin, 2006, h. U-62)

c. Manfaat

Sangat efektif (tingkat kehamilan < 3%). (Saifuddin, 2006, h. U-62)

d. Keterbatasan

  • Pil kombinasi hanya efektif jika digunakan dalam 72 jam sesudah hubungan seksual tanpa perlindungan.
  • Pil kombinasi dapat menyebabkan nausea, muntah, atau nyeri payudara. (Saifuddin, 2006, h. U-62)
e. Indikasi

Indikasi kontrasepsi darurat adalah untuk mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki. 
Bila terjadi kesalahan dalam pemakaian kontrasepsi seperti:
  • Kondom bocor, lepas atau salah menggunakannya.
  • Difragma pecah, robek atau diangkat terlalu cepat.
  • Kegagalan senggama terputus (misalnya ejakulasi di vagina atau pada genitalia eksterna)
  • Salah hitung masa subur.
  • AKDR ekspulsi
  • Lupa minum pil KB lebih dari 2 tablet
  • Terlambat lebih dari 2 minggu untuk suntik KB.
  • Perkosaan.
  • Tidak menggunakan kontrasepsi. (Saifuddin, 2006, h. U-63)
f. Kontraindikasi

Hamil atau disangka hamil.

g. Efek samping

  • Mual, muntah : perlu konseling. Jika muntah terjadi dalam 2 jam sesudah penggunaan pil pertama atau kedua, dosis ulangan perlu diberikan.
  • Perdarahan / bercak : sekitar 8% klien dengan kontrasepsi oral kombinasi mengalami bercak – bercak. Sekitar 50% mendapat haid pada waktunya bahkan lebih awal. (Saifuddin, 2006, h. U-63)
Kontrasepsi Darurat Pil
Contoh Pil Kondar

Kontrasepsi/ KB Suntikan


Kontrasepsi/ KB Suntikan: suntik kombinasi dan progestin only



Kontrasepsi/ KB Suntikan

Saat ini terdapat dua macam kontrasepsi suntikan, yaitu:
1. Golongan progestin dengan campuran estrogen propionate (kombinasi) seperti,
  • Cyclo Provera
  • Cyclofem
2. Golongan progestin seperti,

  • Depo Provera
  • Depo Geston
  • Depo progestin
  • Noristerat
(Mansjoer, 2001; h. 363).

1. SUNTIKAN KOMBINASI

Jenis suntikan kombinasi adalah 25mg Depo Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali, dan 50mg Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi I.M. sebulan sekali (Saifuddin,2006; h. MK-34)

· Cara Kerja

  • Menekan ovulasi
  • Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penitrasi sperma terganggu
  • Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu
  • Menghambat transportasi gamet oleh tuba
(Saifuddin,2006; h. MK-34).

· Efektifitas

Sangat efektif (0.1 – 0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan (Saifuddin,2006; h. MK-34)

· Keuntungan Kontrasepsi

  • Risiko terhadap kesehatan kecil
  • Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
  • Tidak diperlukan pemeriksaan dalam
  • Jangka panjang
  • Efek samping sangat kecil
  • Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
(Saifuddin,2006; h. MK-34).

· Keuntungan Nonkontrasepsi

  • Mengurangi jumlah perdarahan
  • Mengurangi nyeri saat haid
  • Mencegah anemia
  • Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium
  • Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium
  • Mencegah kehamilan ektopik
  • Melindungi klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang panggul
Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan usia perimenopause (Saifuddin,2006; h. MK-34).
· Kerugian

  • Perubahan pola haid ; tidak teratur, perdarahan bercak, perdarahan sela sampai 10 hari
  • Awal pemakaian : mual, pusing, nyeri payudara dan keluhan ini akan menghilang setelah suntikan kedua atau ketiga
  • Ketergantungan klien pada pelayanan kesehatan. Klien harus kembali setiap 30 hari untuk mendapatkan suntikan
  • Efektivitas turun jika interaksi dengan obat : epilepsy (fentoin, barbiturat) atau obat tuberkulosis (rifampisin)
  • Dapat terjadi efek samping yang serius: serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru-paru atau otak, dan kemungkinan timbulnya tumor hati
  • Penambahan berat badan
  • Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV
  • Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian,
(Saifuddin,2006; h. MK34-35).

· Yang Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi

  • Usia reproduksi
  • Telah memiliki anak, ataupun yang belum memiliki anak
  • Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas tinggi
  • Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan
  • Pasca persalinan dan tidak menyusui
  • Anemia
  • Nyeri haid hebat
  • Haid teratur
  • Riwayat kehamilan ektopik
  • Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
(Saifuddin,2006; h. MK-35).

· Yang Tidak Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi

  • Hamil atau diduga hamil
  • Menyusui di bawah 6 minggu pasca persalinan
  • Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
  • Penyakit hati akut (virus hepatitis)
  • Usia > 35 tahun yang merokok
  • Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi (>180/110 mmHg)
  • Riwayat kelainan tromboemboliatau dengan kencing manis > 20 tahun
  • Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala atau migraine
  • Keganasan pada payudara
(Saifuddin,2006; h. MK-35).

· Waktu Mulai Menggunakan Suntikan Kombinasi

  • Suntikan pertama diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid, tidak diperlukan kontrasepsi tambahan
  • Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke 7 siklus haid, klien tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari
  • Bila klien tidak haid maka pastikan tidak hamil, suntikan pertama dapat diberikan setiap saat. Klien tidak boleh melakukan hubungan seksual untuk 7 hari lamanya atau gunakan kontrasepsi lain
  • Pasca bersalin 6 bulan, menyusui dan belum haid maka harus dipastikan tidak hamil dan suntikan dapat diberikan
  • Pasca bersalin < 6 bulan, menyusui serta telah mendapatkan haid, maka suntikan pertama diberikan pada siklus haid hari 1 dan 7
  • Pasca persalinan < 6 bulan dan menyusui, jangan diberikan suntikan kombinasi
  • Pasca persalinan 3 minggu dan tidak menyusui, suntikan kombinasi dapat diberikan
  • Pasca keguguran suntikan kombinasi dapat segera di berikan waktu 7 hari
 Ganti cara:
  • Suntikan lain sesuai jadwal
  • Hormonal kombinasi lain, bila sebelumnya menggunakan kontrasepsi dengan benar segera diberikan, jika ragu tes kehamilan
  • Non hormonal èsegera berikan asal tidak hamil, bila diberikan hari 1-7 siklus tidak perlu kontrasepsi lain
(Saifuddin,2006; h. MK-36).

· Cara Penggunaan

  • Suntikan diberikan di Intra muscular, setiap bulan
  • Suntikan Diulang tiap 4 minggu
  • Suntikan ulang dapat diberika 7 hari lebih awal dengan kemungkinan terjadi gangguan perdarahan
  • Jika suntikan diberikan setelah hari ke 7 ètidak dianjurkan hubungan 7 hari kemudian atau gunakan kontrasepsi lain
(Saifuddin,2006; h. MK-37).

· Perlu Perhatian Khusus
  • Tekanan darah tinggi <180/110 mmHg dapat diberikan, tetapi perlu pengawasan
  • Kencing Manis (DM) dapat diberikan jika tidak ada komplikasi dan terjadi < 20 tahun
  • Migrain, jika tidak ada kelainan neurologik dapat diberikan
  • Menggunakan rifampisin / obat epilepsy, pilih dosisi ethinil estradiol 50 ug atau pilih kontrasepsi lain
  • Anemi bulan sabit (sickle cell), sebaiknya jangan menggunakan suntikan kombinasi
(Saifuddin,2006; h. MK-35).

· Efek Samping dan Penanganannya

- Amenorea

Singkirkan kehamilan, jika hamil lakukan konseling, bila tidak hamil, sampaikan bahwa darah tidak terkumpul di rahim

- Mual / Pusing / Muntah

Pastikan tidak hamil, informasikan hal tersebut bisa terjadi, jika hamil lakukan konseling / rujuk

- Spotting

Jelaskan merupakan hal biasa tapi juga bisa berlanjut, jika berlanjut maka anjurkan ganti cara

(Saifuddin,2006; h. MK 37-38).

· Intruksi Untuk Klien

  • Harus kembali untuk suntik ulang setiap 4 minggu
  • Tidak haid lebih dari 2 bulan maka pastikan tidak hamil
  • Menyampaikan ESO yaitu: mual, sakit kepala, nyeri ringan payudara dan spotting sering ditemukan pada 2-3 kali suntikan pertama
Apabila klien sedang menggunakan obat-obat tuberculosis atau obat epilepsi obat-obat tersebut dapat mengganggu efektivitas kontrasepsi yang sedang digunakan (Saifuddin,2006; h. MK-38).

2. SUNTIKAN PROGESTIN / PROGESTIN ONLY INJECTABLE (PICS)

Depo-provera ialah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif, obat ini termasuk obat depot. Noristerat juga termasuk dalam golongan ini (Hanifah, 2007; h. 551).

· Jenis

Tersedia 2 jenis kontrasepsi suntika yang mengandung progrstin, yaitu:

  • Depo Medroksiprogesteron Asetat (Deprovera), mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik I.M
  • Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat). Yang mengandung 200 mg Noretisteron Enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik I.M (Saifuddin,2006; h. MK-41).
· Mekanisme kerja
  • Obat ini menghalangi terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan Releasing Factor dari hipotalamus
  • lendir serviks bertambah kental, sehingga menghambat penetrasi sperma melalui serviks uteri
  • implantasi ovum dalam endometrium dihalangi
  • kecepatan transport ovum melalui tubah berubah
(Hanifah, 2007; h. 551).

· Efektifitas

Kedua kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektivitas yang tinggi, dengan 0,3 kehamilan per 100 perempuan-tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadual yang telah ditentukan (Saifuddin,2006; h. MK-42).

· Keuntungan

  • Sangat efektif
  • Pencegahan kehamilan jangka panjang
  • Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami-istri
  • Tidak mengadung estrogen sehingga tidak berdampal serius terhadap penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah
  • Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
  • Sedikit efek samping
  • Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
  • Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai perimenopause
  • Membantu mebcegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
  • Menunkan kejadian penyakit jinak payudara
  • Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul
  • Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)
(Saifuddin,2006; h. MK-42).

· Keterbatasan

  • Sering ditemukan gangguan haid seperti:
  • Siklus haid yang memendek atau memanjang
  • Perdarahan yang banyak atau sedikit
  • Perdarahan teratur atau perdarahan bercak (spotting)
  • Tidak haid sama sekali
  • Klien sangat tergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali untuk suntik)
  • Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut
  • Permasalan berat badan merupakan efek samping tersering
  • Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV
  • Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
  • Terlambatnya kembali keseburan bukan karena terjadinya kerusakan/kelainan pada organ genatalia, melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan dari Deponya (Tempat suntikan)
  • Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
  • Pada pengguanaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan tulang (densitas)
  • Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, jerawat.
(Saifuddin,2006; h. MK-35).

· Indikasi

  • Usia reproduksi
  • Nulipara dan yang telah memiliki anak
  • Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektivitas tinggi
  • Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
  • Setelah melahirkan dan tidak mnyusui
  • Setelah abortus atau keguguran
  • Telah bnyak anak tetapi belum menghendaki tubektomi
  • Perokok
  • Tekanan darah < 180/110 mmHg, dengan masalah gangguan embekuan darah atau ane,ia bulan sabit
  • Menggunakan obat untuk epilepsy (fenitoin dan barbiturat) atau obat tuberkulosisi (rifampisin).
  • Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen
  • Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
  • Anemia defisiensi besi
  • Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi
(Saifuddin,2006; h. MK-43).

· Kontra Indikasi

  • Hamil atau dicurigai hamil ( risiko cacat pada janin 7 per 100.000 kelahiran)
  • Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
  • Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorea
  • Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara
  • DM disertai komplikasi
(Saifuddin,2006; h. MK-43).

· Waktu Mulai Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin

  • Setiap saat selama siklus haid, asal ibu tersebut tidak hamil
  • Mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid
  • Pada ibu yang tidak haid, injeksi pertama dapat diberikan setiap saat (asal tidak hamil). Selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual
- Ganti cara:
  • Suntikan lain sesuai jadwal
  • Hormonal kombinasi lain, bila sebelumnya menggunakan kontrasepsi dengan benar segera diberika, jika ragu tes kehamilan
  • Non hormonal segera berikan asal tidak hamil, bila diberikan hari 1-7 siklus tidak perlu kontrasepsi lain
(Saifuddin,2006; h. MK 43-44).

Depo Provera sangat cocok untuk program post partum oleh karena tidak mengganggu laktasi, dan terjadinya amenorea setelah suntikan-suntikan Depo Provera tidak akan mengganggu ibu9ibu yang menyusui anaknya dalam masa dalam masa post partum, karena dalam masa ini terjadi amenorea laktasi. Untuk program post partum, Depo Provera disuntikkan sebelum Ibu meninggalkan rumah sakit; sebaiknya sesudah air susu ibu terbentuk, yaitu kira-kira hari ke-3 s/d hari ke-5. Depo Provera disuntikkan dalam dosis 150 mg/cc sekali 3 bulan. Suntikan harus IM dalam (Hanifah, 2007; h. 551).

· Efek Samping Dan Penatalaksanaan

 
1. Amenorrhea
  • Evaluasi untuk mengetahui apakah ada kehamilan, terutama jikan terjadi amenorrhea setelah masa siklus haid yang teratur
  • Yakinkan ibu bahwa hal itu adalah biasa, bukan merupakan efek samping yang serius
  • Jika tidak ditemui masalah, jangan berupaya untuk merangsang perdarahan dengan kontrasepsi oral kombinasi
2. Perdarahan hebat atau tidak teratur
  • Spotting yang berkepanjangn > 8 hari atau perdarahan sedang
  • Yakinkan dan pastikan
  • Periksa apakah ada masalah ginekologis (missal: servisitis)
  • Pengobatan jangka pendek
  • Kontrasepsi oral kombinasi (30-50 µg EE) selama 1 siklus 1, atau
  • Ibuprofen (hingga 800 mg 3 kali sehari x 5 hari)
3. Perdarahan yang dua kali atau dua kali lama perdarahan normal
  • Tinjau riwayat perdarahan secara cermat dan periksa hemoglobin (jika ada)
  • Periksa apakah ada masalah ginekologis
  • Pengobatan jangka pendek
  • Kontrasepsi oral kombinasi (30-50 µg EE) selama 1 siklus 1, atau
  • Ibuprofen (hingga 800 mg 3 kali sehari x 5 hari)
4. Jika perdarahn tidak berkurang dalam 3-5 hari, berikan
  • Dua pil kontrasepsi oral kombinasi per hari selama sisa siklusnya kemudian 1 pil per hari dari kemasan pil yang baru, atau
  • Estrogen dosis tinggi (50 µg EE COC, atau 1,25 mg yang disatuklan dengan estrogen) selama 14-21 hari.
  • Pertambahan atau pengurangan berat badan (perubahan nafsu makan)
Informasikan bahwa kenaikan/penurunan berat badan sebanyak 1-2 kg dapat saja terjadi. Perhatikan diet klien bila perubahan berat badan terlalu mencolok, bila berat badan berlebihan, hentikan suntikan dan anjurkan metode kontrasepsi lain (Saifuddin,2006; h. MK-47).

· Intruksi Untuk Klien

Klien harus kembali ketempat pelayanan kesehatan atau klinik untuk mendapatkan suntikan kembali setiap 12 minggu untuk DMPA atau setiap 8 minggu untuk noristerat (Saifuddin,2006; h. MK-47).

· Tanda-tanda Peringatan

  • Masa haid yang tertunda setelah beberapa bulan siklus teratur, apabila terlambat haid dipikirkan adanya kemungkina kehamilan
  • Nyeri perut bagian bawah yang berat kemungkinan kehamilan ektopik terganggu
  • Timbulnya Abses atau perdarahan pada tempat suntikan
  • Sakit kepala Migraine (vaskuler), sakit kepala yang berat dan terus berulang atau pandangan yang kabur
  • Perdarahan berat yang 2 kali lebih panjang dari masa haid atau 2 kali lebih banyak dalam satu periode masa haid
(Saifuddin,2006; h. MK-46).
DAFTAR PUSTAKA

Hanifah, Winkjosastro. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.
Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.

Tahapan Konseling KB

Tahapan Konseling dalam Pelayanan KB
Tahapan kegiatan konseling dalam pelayanan KB dapat dirinci dalam tahapansebagai berikut : KIE Motivasi – Bimbingan –Rujukan - KIP/K - Pelayanan Kontrasepsi - Tindak Lanjut ( Pengayoman) Adapun uraian dari masing- masing kegiatan motivasi bimbingan konseling dalam gerakan KB Nasional adalah :

a.  Kegiatan KIE Keluarga Berencana

Sumber informasi pertama tentang jenis alat / metoda kontrasepsi pada umunya diterima oleh masyarakat dari petugas lapangan KB yaitu PPLKB, PLKB, PPKBD maupun kader yang bertugas memberikan pelayanan KIE KB kepada masyarakat dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah, kegiatan KIE di Posyandu ataupun dalam kesempatan – kesempatan lainnya. Informasi tersebut dapat diperoleh masyarakat dari dokter atau paramedis yang bertugas di klinik KB yang ada di Puskesmas, Balai Kesehatan, Rumah sakit Bersalin dan Rumah Sakit Umum. Atau dari media cetak (surat kabar, majalah, poster dsb) dan media elektronik (radio atau televisi).

Pesan yang disampaikan dalam Kegiatan KIE tersebut pada umumnya meliputi 3 hal yaitu tentang :
  1. Pengertian dan manfaat KB bagi kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
  2. Proses terjadinya kehamilan pada wanita (yang penting dalam kaitannya menerangkan cara kerja alat / metode kontrasepsi)
  3. Jenis alat / metode kontrasepsi yang ada , cara pemakaian cara kerjanya serta lama pemakaiannya.
b.  Kegiatan Bimbingan
Kegiatan bimbingan kontrasepsi merupakan tindak lanjut dari kegiatan KIE juga merupakan tugas para petugas lapangan KB. Sesudah memberikan KIE keluarga berencana PLKB diharapkan melanjutkan dengan melakukan penyaringan terhadap calon peserta KB. Tugas penyaringan ini dilakukan dengan memberikan bimbingan kontrasepsi yaitu memberikan informasi tentang jenis kontrasepsi secara lebih obyektif, benar dan jujur sekaligus meneliti apakah calon peserta KB tersebut memenuhi syarat untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang dipilihnya. Bila memenuhi syarat , maka calon peserta tersebut kemudian dirujuk oleh PLKB ke fasilitas pelayanan yang terdekat untuk memperoleh pelayanan KIP/K. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas yang dilakukan oleh pembimbing adalah merupakan bagian dari tugas konselor. Artinya baik mutu bimbingan yang dilakukan sewaktu dilapangan akan mempermudah proses konselingnya.

c. Kegiatan Rujukan
Dapat dibedakan dalam 2 macam yaitu rujukan untuk calon peserta KB dan rujukan untuk peserta KB.
  • Rujukan untuk calon peserta KB dilakukan oleh petugas lapangan KB dimana calon peserta dirujuk ke klinik yang terdekat dengan tempat tinggal calon peserta dengan maksud untuk mendapatkan pelayanan konseling dan pelayanan kontrasepsi. Atau rujukan dilakukan oleh klinik ke klinik lain yang lebih memadai sarananya.
  • Rujukan Rujukan ke klinik untuk peserta KB dilakukan oleh petugas lapangan KB terhadap peserta KB yang mengalami komplikasi atau kegagalan untuk mendapatkan perawatan. Atau dapat juga dilakukan oleh suatu klinik yang karena sasarannya belum memadai , maka peserta KB yang mengalami komplikasi dirujuk ke klinik lain yang lebih mampu.
d. Kegiatan KIP/K
Setiap pasangan suami istri (klien) yang dirujuk oleh petugas lapangan KB ke klinik, sebelum memperoleh pelayanan kontrasepsi harus mendapatkan pelayanan KIP/K terlebih dahulu. Beberapa tahap yang perlu dilakukan dalam KIP/K adalah :
    1. Menjajaki apa alasan klien memilih alat / metode kontrasepsi tersebut.
    2. Menjajaki apakah klien sudah mengetahui / memahami alat / metode kontrasepsi yang dipilihnya tersebut.
    3. Menjajaki apakah klien mengetahui jenis alat / metode kontrasepsi lain.
    4. Bila belum mengetahui, perlu diberikan informasi mengenai hal hal diatas.
    5. Berikan klien kesempatan untuk mempertimbangkan pilihannya kembali, kontrasepsi apa yang akan dipakai.
    6. Jika diperlukan bantulah klien dalam proses pengambilan keputusan.
    7. Berilah klien informasi bahwa apapun pilihannya sebelum diberikan pelayanan klien akan diperiksa terlebih dahulu kesehatannya sehingga belum tentu alat / metode kontrasepsi yang dipilihnya tersebut secara medis cocok buat dirinya. Hasilpembicaraan dengan klien diatas dicatat pada kartu konseling. Sesudah klien mengambil keputusan tentang alat / metode kontrasepsi yang akan dipakainya.
      e.  Kegiatan Pelayanan Kontrasepsi

      Pemeriksaan kesehatan yang dlakukan meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik. Apabila dari hasil pemeriksaan kesehatan tidak didapati kontraindikasi, maka pelayanan kontrasepsi dapat dilakukan.Untuk pelayanan metode kontrasepsi jangka panjang Yaitu IUD, implant, dan kontap sebelum pelayanan dimulai kepada klien diminta untuk menandatangai informed consent form.



      f. Kegiatan Tindak Lanjut ( Pengayoman )

      Selesai mendapatkan pelayanan kontrasepsi, petugas melakukan pemantauan kepada keadaan peserta KB dan diserahkan kembali kepada petugas lapangan KB. Hal ini karena pola pendekatan para PLKB adalah dengan kunjungan ke rumah-rumah para peserta KB khususnya peserta Kb baru. Oleh karena itu tugas kunjungan ini sekaligus dapat dimanfaatkan untuk memantau keadaan para peserta KB baru apakah dalam keadaan sehat ataukah mengalami efek samping ataupun komplikasi.


      Tahapan Konseling KB

      DAFTAR PUSTAKA
      Hanifah, Winkjosastro. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.
      Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.
      Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.

      Sejarah KB di Indonesia

      Sejarah KB di Indonesia

      1. Dasar Pembentukan Organisasi KB

      Kasadaran manusia tentang pentingnya masalah kependudukan dimulai sejak bumi dihuni oleh ratusan juta manusia. Plato (427-347) menyarankan agar pranata sosial dan pemerintahan sebaiknya direncanakan dengan pertumbuhan penduduk yang stabil sehingga terjadi keseimbangan antara jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi.Malthus (1766-1834) pada zaman industri sedang berkembang manusia jangan terlalu banyak berhayal bahwa dengan kemampuan tehnologi mereka akan dapat memenuhi segala kebutuhan karena pertumbuhan manusia laksana deret ukur, sedangkan pertumbuhan dan kemampuan sumber daya alam untuk memenuhinya berkembang dalam deret hitung. 

      Dengan demikian dalam suatu saat manusia akan sulit untuk memenuhi segala kebutuhannya karena sumber daya alam yang sangat terbatas.Pernyataan Malthus yang merupakan kekawatiran terhadap pertumbuhan penduduk telah muncul ke permukaan di negara besar, seperti Cina, India dan termasuk Indonesia.Tahun 1978, WHO dan UNICEF melakukan pertemuan di Alma Ata yang memusatkan perhatian terhadap tingginya angka kematian maternal perinatal. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk menetapkan konsep Primary Health Care yang memberikan pelayanan antenatal, persalinan bersih dan aman, melakukan upaya penerimaan keluarga berencana, dan meningkatkan pelayanan rujukan.Tahun 1984, Population Conference di Mexiko, menekankan arti pentingnya hubungan antara tingginya fertilitas dan interval yang pendek terhadap kesehatan dan kehidupan ibu dan perinatal.


      Sejarah KB di Indonesia

      Perkembangan laju peningkatan pertumbuhan penduduk di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Tanpa adanya usaha-usaha pencegahan perkembangan laju peningkatan penduduk yang terlalu cepat, usaha-usaha di bidang pembangunan ekonomi dan sosial yang telah dilaksanakan dengan maksimal akan tidak berfaedah.Dapat dikemukakan bahwa untuk dapat menyelamatkan nasib manusia di muka bumi tercinta ini, masih terbuka peluang untuk meningkatkan kesehatan reproduksi malalui gerakan yang lebih intensif pada pelaksanaan keluarga berencana.Tanpagerakan KB yang makin intensif maka manusia akan terjebak pada kemiskinan, kemelaratan, dan kebodohan yang merupakan malapetaka manusia yang paling dahsyat danmencekam. Gerakan KB yang kita kenal sekarang bermula dari kepeloporan beberapa orang tokoh, baik di dalam maupun di luar negeri. Sejak saat itulah berdirilah perkumpulan-perkumpulan KB di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang mendirikan PKBI (perkumpulan keluarga berencana Indonesia)

      2. Peristiwa bersejarah dalam perkembangan KB di Indonesia :
      • Pada Bulan Januari 1967 diadakan simposium Kontrasepsi di Bandung yang diikuti oleh masyarakat luas melalui media massa
      • Pada Bulan Februari 1967 diadakan diadakan kongres PKBI pertama yang mengharapkan agar keluarga berencana sebagai program pemerintah segera dilaksanakan
      • Pada Bulan April 1967, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menganggap bahwa sudah waktunya kegiatan KB dilancarkan secara resmi di Jakarta dengan menyelenggarakan proyek keluarga berencana DKI Jakarta Raya
      • Tanggal 16 Agustus 1967 gerakan keluarga berencana di Indonesia memasuki era peralihan pidato pemimpin negara. Selama orde lama organisasi pergerakan dilakukan oleh tenaga sukarela dan beroperasi secara diam-diam karena kepala Negara waktu itu anti terhadap keluarga berencana maka dalam orde baru gerakan keluarga berencana diakui dan dimasukan dalam program pemerintah. 
      • Bulan Oktober 1968 berdiri Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang sifatnya semi pemerintah yang dalam tugasnya diawasi dan dibimbing oleh Mentri Negara Kesejahteraan Rakyat, merupakan kristalisasi dan kesungguhan pemerintah dalam kebijakan keluarga berencana.
      Peristiwa-peristiwa bersejarah di dalam perkembangan di Negara Indonesia adalah masuknya program keluarga berencana itu kedalam repelita I. Adanya KUHP pasal 283 yang melarang menyebarluaskan gagasan keluarga berencana sehingga kegiatan penerangan dan pelayanan masih dilakukan secara terbatas. 

      3. Tahap-tahap Program KB Nasional

      Adapun tahapan kebijakan pemerintah dalam penyelenggaran Program KB Nasional di Indonesia adalah :

      a. Tahun 1970 – 1980 dikenal dengan MANAGEMENT FOR THE PEOPLE

      1). Pemerintah lebih banyak berinisiatif
      2). Partisipasi masyarakat rendah sekali
      3). Terkesan kurang demokratis
      4). Ada unsur pemaksaan
      5). Berorientasi pada target

      b. Tahun 1989 – 1990 terjadi perubahan pola menjadi MANAGEMENT WITH THE PEOPLE
      • Pemaksaan dikurangi
      • Dimulainya Program Safari KB pada awal 1980-an
      c. Tahun 1985 – 1988 pemerintah menetapkan program KB Lingkaran Biru, dengan kebijakan :
      • Masyarakat bebas memilih kontrasepsi yang ingin dipakainya, meskipun tetap masih dipilihkan jenis kontrasepsinya
      • Dari 5 jenis kontrasepsi, dipilihkan satu setiap jenisnya
      d. Tahun 1988 terjadi perkembangan kebijakan, pemerintah menerapkan Program KB Lingkaran Emas, yaitu :
      • Pilihan alat kontrasepsi sepenuhnya diserahkan kepada peserta, asal jenis kontrasepsinya sudah terdaftar di Departemen Kesehatan.
      • Masyarakat sudah mulai membayar sendiri untuk alat kontrasepsinya.
      e. Tahun 1990 terjadi Peningkatan kesejahteraan keluarga melalui peningkatan pendapatan keluarga (income generating)

      Pada tanggal 29 Juni 1994 Presiden Suharto di Sidoardjo melaksanakan plesterisasi/lantainisasi rumah-rumah secara gotong royong di seluruh Indonesia untuk keluarga Pra-Sejahtera

      Baca juga Mengenali tanda gejala stroke sejak dini

      DAFTAR PUSTAKA
      Hanifah, Winkjosastro. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.
      Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.
      Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.

      Langkah-langkah konseling KB

      Langkah-langkah Konseling

      a. GATHER menurut Gallen dan Leitenmaier (1987) 


      Gallen dan Leitenmaier memberikan satu akronim yang dapat dijadikan panduan bagi petugas klinik KB untuk melakukan konseling. Akronim tersebut adalah GATHER yang merupakan singkatan dari :

      (G : Greet)
      Berikan salam, mengenalkan diri dan membuka komunikasi.

      (A : Ask atau Assess)
      Menanyakan keluhan atau kebutuhan pasien dan menilai apakah keluhan/keinginan yang disampaikan memang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

      (T : Tell)
      Beritahukan bahwa persoalan pokok yang dihadapi oleh pasien adalah seperti yang tercermin dari hasil tukar informasi dan harus dicarikan upaya penyelesaian masalah tersebut.

      (H : Help)
      Bantu pasien untuk memahami masalah utamanya dan masalah itu yang harus diselesaikan. Jelaskan beberapa cara yang dapat menyelesaikan masalah tersebut, termasuk keuntungan dan keterbatasan dari masing – masing cara tersebut. Minta pasien untuk memutuskan cara terbaik bagi dirinya.

      (E : Explain)
      Jelaskan bahwa cara terpilih telah diberikan atau dianjurkan dan hasil yang diharapkan mungkin dapat segera terlihat atau diobservasi beberapa saat hingga menampakkan hasil seperti yang diharapkan. Jelaskan pula siapa dan dimana pertolongan lanjutan atau darurat dapat diperoleh.

      (R : Refer dan Return visit)
      Rujuk apabila fasilitas ini tidak dapat memberikan pelayanan yang sesuai atau buat jadwal kunjungan ulang apabila pelayanan terpilih telah diberikan.

      Langkah-langkah konseling KB

      b. Langkah – Langkah Konseling KB SATU TUJU 


      Dalam memberikan konseling. Khususnya bagi calon klien KB yang baru hendaknya dapat diterapkan 6 langkah yang sedah dikenal dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan SATU TUJU tersebut tidak perlu dilakukan secara berurutan karena petugas harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan klien .Beberapa klien membutuhkan lebih banyak perhatian pada langkah yang satu dibandingkan dengan langkah lainnya.Kata kunci SATU TUJU dalah sebagai berikut :

      (SA : sapadan salam)
      Sapa dan salam kepada klien secara terbuka dan sopan. Berikan perhatiansepenuhnya kepada mereka dan berbicara ditempat yan nyaman serta terjamin privasinya. Yakinkan klien untuk membangun rasa percaya diri.Tanyakan kepada klien apa yang perlu dibantu serta jelaskan pelayanan apa yang dapat diperolehnya.

      (T : Tanya)
      Tanyakan kepada klien informasi tentang dirinya. Bantu klien untuk berbicara mengenai pengalaman keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, tujuan, kepentingan, harapan, serta keadaan kesehatan dan kehidupan keluarganya.Tanyakan konstrasepsi yan diiginkan ole klien. Berikan perhatian kepada klien apa yang disampaikan oleh klien ssuai dengan kata-kata, gerak isyarat dan caranya.Coba tempatkan diri kita di dalam hati klien.Perlihatkan bahwa kita memahami. Dengan memahami pengetahuan, kebutuhan dan keinginan klien kita dapat membantunya.

      (U: Uraikan)
      Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beritahu apa pilihan reproduksi yang paling mungkin, termasuk pilihan beberapa jenis kontrasepsi. Bantulah klien pada jenis kontrasepsi yang paling dia ingini, serta jelaskan pula jenis-jenis lain yang ada. Juga jelaskan alternative kontrasepsi lain yang mungkin diingini oleh klien.Uraikan juga mengenairisiko penularan HIV/ Aids dan pilihan metode ganda.

      (TU : Bantu)
      Bantulah klien menentukan pilihannya. Bantulah klien berfikir mengenai apa yang palingsesuai dengan keadaan dan kebutuhannya. Doronglah klien untuk menunjukkan keinginannya dan mengajukan pertanyaan. Tanggapilah secara terbuka. Petugas membantu klien mempertimbangkan criteria dan keinginan klien terhadap setiap jenis kontrasepsi.Tanyakan juga apakah pasangannya akan memberikan dukungan dengan pilihan tersebut. Jika memungkinkan diskusikan mengenai pilihan tersebut pada pasangannya. Pada akhirnya yakinkan bahwa klien telah membuat suatu keputusan yang tepat. Petugas dapat menanyakan : Apakah anda sudah memutuskan pilhan jenis kontrasepsi? Atau apa jenis kontrasepsi terpilih yang akan digunakan.

      (J : Jelaskan)
      Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya setelah klien memilih jenis kontrasepsinya, jika diperlukan perlihatkanalat/ obat kontrasepsinya.Jelaskan bagaimana alat / obat kontrasepsi tersebut digunakan dan bagaimana cara penggunaannya. Sekali lagi doronglah klien untuk bertanya dan petugas menjawab secara jelas dan terbuka.Beri penjelasan juga tentang manfaat ganda metode kontrasepsi, misalnya kondom yang dapat mencegah infeksi menular seksual (IMS).Cek pengetahuan klien tantang penggunaan kontrasepsi pilihannya dan puji klien apabila dapat menjawab dengan benar.

      (U : Kunjungan Ulang)
      Perlunya dilakukan kunjungan ulang. Bicarakan dan buatlah perjanjian, kapanklien akan kembali untuk melakukan pemeriksaan atau permintaan kontrasepsi jika dibutuhkan. Perlu juga selalu mengingatkan klien untuk kembali apabila terjadi suatu masalah.

      Baca juga sejarah KB di indonesia

      DAFTAR PUSTAKA

      Hanifah, Winkjosastro. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.
      Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.
      Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo.